Memaknai “Resolusi” Menjelang 2026: Biar Niat Baik Jadi Gerak Bareng di NU Ranting Kedawung

Memaknai “Resolusi” Menjelang 2026: Biar Niat Baik Jadi Gerak Bareng di NU Ranting Kedawung

Memaknai “Resolusi” Menjelang 2026: Biar Niat Baik Jadi Gerak Bareng di NU Ranting Kedawung

Memaknai “Resolusi” Menjelang 2026: Biar Niat Baik Jadi Gerak Bareng di NU Ranting Kedawung

Kedawung, Kroya — Menjelang pergantian tahun, kata “resolusi” sering muncul di obrolan: “Tahun depan pengin lebih rajin,” “pengin programnya jalan,” atau “pengin lebih rukun dan kompak.” Tapi di lingkungan kita—NU Ranting, Banom, dan seluruh penggerak kegiatan—resolusi bukan sekadar tulisan manis di awal tahun. Resolusi itu cara kita merapikan niat, menyusun langkah, dan menjaga istiqamah supaya kerja-kerja khidmah benar-benar terasa manfaatnya di masyarakat.

Artikel ini ngajak kita memaknai resolusi dengan cara yang santai, tapi tetap jelas dan bisa dipraktikkan oleh semua pengurus dan Banom.


Resolusi itu apa sih?

Sederhananya, resolusi adalah komitmen untuk berubah atau memperbaiki sesuatu. Bisa untuk pribadi (misal: lebih disiplin, lebih rajin ngaji), bisa juga untuk organisasi (misal: program kerja lebih tertata, kaderisasi jalan, administrasi rapi).

Di NU Ranting, “resolusi” paling pas kalau diterjemahkan jadi:
tekad bersama yang dibikin jadi program kerja, lalu dijaga pelaksanaannya.

Karena ujungnya bukan “niatnya bagus”, tapi kegiatannya terjadi dan dampaknya dirasakan warga.


Bedanya resolusi pribadi dan resolusi organisasi

Biar nggak ketuker, gampangnya begini:

1) Resolusi pribadi

Fokusnya ke diri sendiri. Contoh:

  • “Saya mau lebih disiplin hadir rapat.”
  • “Saya mau belajar MC supaya bisa bantu acara.”
  • “Saya mau memperbaiki adab bermedsos.”

2) Resolusi organisasi (NU Ranting & Banom)

Fokusnya ke kerja bersama. Contoh:

  • “Pengajian rutin tertata dengan jadwal jelas.”
  • “Santunan yatim berjalan transparan dan tepat sasaran.”
  • “Kaderisasi IPNU-IPPNU dan Ansor jalan rutin.”

Resolusi organisasi harus jelas: siapa ngapain, kapan, ukurannya apa.


Kenapa resolusi sering gagal?

Kita jujur saja: banyak resolusi kandas bukan karena nggak niat. Biasanya karena:

  1. Terlalu umum
    “Program ditingkatkan” itu baik, tapi masih kabur. Ditingkatkan yang mana? Ukurannya apa?
  2. Tidak ada PIC
    Kalau semua merasa “punya”, seringnya jadi “tidak ada yang pegang”.
  3. Tidak ada jadwal dan ritme evaluasi
    Tanpa evaluasi, kita baru sadar “loh kok belum jalan” pas sudah akhir tahun.
  4. Tidak memperhitungkan tenaga, waktu, dan biaya
    Program bagus tapi bebannya tidak realistis, akhirnya stop di tengah.

Resolusi versi NU Ranting: niat baik + ukuran jelas

Biar resolusi nggak berhenti di wacana, coba pakai rumus sederhana berikut:

1) Rumus 1 kalimat

“Pada 2026, kita akan (melakukan apa) untuk (siapa) dengan cara (bagaimana) agar (hasilnya seperti apa).”

Contoh:

“Pada 2026, NU Ranting Kedawung akan menguatkan pengajian rutin warga dengan jadwal tetap dan tim pelaksana bergilir agar jamaah lebih konsisten dan kegiatan tertib.”

2) Wajib ada indikator

Indikator itu tanda keberhasilan yang bisa dicek. Misal:

  • Jumlah kegiatan terlaksana: 10 kali/tahun
  • Rata-rata jamaah hadir: 50 orang/kegiatan
  • Dokumentasi & laporan: 100% ada

Indikator tidak harus rumit. Yang penting terukur dan masuk akal.

3) Pecah jadi kegiatan

Resolusi yang bagus itu punya daftar kegiatan. Misal:

  • Pengajian rutin bulanan
  • Rotasi petugas (MC, tahlil, konsumsi)
  • Pendataan jamaah/undangan
  • Dokumentasi dan laporan singkat

4) Tetapkan PIC dan tim

Di NU, kerja itu bareng-bareng. Tapi tetap perlu PIC supaya jelas koordinasinya:

  • Penanggung jawab program
  • Koordinator lapangan
  • Bendahara/keuangan
  • Dokumentasi

5) Buat evaluasi yang ringan tapi rutin

Nggak perlu evaluasi ribet. Cukup:

  • Evaluasi bulanan 15–30 menit: apa yang jalan, apa yang perlu diperbaiki
  • Catat singkat: keputusan, jadwal berikutnya, kebutuhan

Contoh “Resolusi 2026” yang cocok untuk NU Ranting & Banom

Biar kebayang, ini beberapa contoh yang bisa dipilih dan disesuaikan:

  1. Pengajian Rutin & Tahlil
    Tujuan: merawat tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah dan memperkuat silaturahmi.
    Indikator: pengajian berjalan 10–12 kali/tahun + dokumentasi lengkap.
  2. Santunan Yatim/Dhuafa
    Tujuan: khidmah sosial yang tepat sasaran.
    Indikator: data penerima valid + laporan donasi transparan.
  3. Kaderisasi Ke-NU-an (Ranting & Banom)
    Tujuan: menyiapkan kader muda yang siap membantu kegiatan.
    Indikator: minimal 1–2 kegiatan kaderisasi/tahun + anggota baru aktif.
  4. Kebersihan Masjid/Makam & Kerja Bakti
    Tujuan: menghidupkan gotong royong dan kenyamanan ibadah.
    Indikator: kerja bakti terjadwal + perlengkapan tersedia.
  5. Bazar/Expo UMKM Warga
    Tujuan: menguatkan ekonomi warga dan jejaring pelaku usaha.
    Indikator: jumlah UMKM ikut + omzet/antusiasme tercatat.

Penutup: Resolusi itu “niat yang ditulis, langkah yang dijaga”

Kalau diringkas, resolusi yang baik untuk NU Ranting Kedawung bukan yang paling keren kalimatnya, tapi yang:

  • jelas tujuannya,
  • ada kegiatannya,
  • ada PIC-nya,
  • ada ukurannya,
  • dan ada evaluasinya.

Biar 2026 jadi tahun yang lebih tertata: khidmah makin terasa, kader makin tumbuh, jamaah makin guyub.

Kalau ada usulan resolusi atau program kerja dari Banom (Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU-IPPNU, dan lainnya), monggo disampaikan. Yang penting kita bangun bersama, jalan bersama, dan evaluasi bersama.

Redaksi — NU Ranting Kedawung, Kroya

Jadwal Sholat

Memuat…
Menuju –j –m –d
  • Imsak –:–
  • Subuh –:–
  • Terbit –:–
  • Dzuhur –:–
  • Ashar –:–
  • Maghrib –:–
  • Isya –:–
Kedawung, Kroya & Sekitarnya
(Koordinat Presisi Desa Kedawung)