Dari Canva Sampai KPI Miliaran: 5 Wajah Mengejutkan Nahdlatul Ulama di Era Digital

Dari Canva Sampai KPI Miliaran: 5 Wajah Mengejutkan Nahdlatul Ulama di Era Digital

Dari Canva Sampai KPI Miliaran: 5 Wajah Mengejutkan Nahdlatul Ulama di Era Digital

Dari Canva Sampai KPI Miliaran: 5 Wajah Mengejutkan Nahdlatul Ulama di Era Digital

Nahdlatul Ulama (NU), bagi banyak orang, adalah sinonim dari tradisi. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, citranya lekat dengan pondok pesantren, pengajian kitab kuning, dan amaliah yang telah mengakar selama puluhan tahun. Namun, di balik wajah tradisional itu, beroperasi sebuah mesin organisasi yang modern dan sangat strategis.

Di satu sisi, sebuah dokumen yang membahas megatren global dan target keuangan lima tahunan dalam angka miliaran rupiah. Di sisi lain, sebuah PDF sederhana yang merinci kapan waktu terbaik mengunggah kutipan kiai di Status WhatsApp. Penemuan bahwa kedua dokumen ini berasal dari organisasi yang sama mengungkap sebuah mesin operasional modern yang selama ini tersembunyi di depan mata.

Yang pertama, Rencana Strategis (Renstra) PCNU Cilacap, memberikan “mengapa” dan “apa”. Yang kedua, buku panduan digital dari Ranting NU Kedawung, menyediakan “bagaimana” dan “siapa”—mengungkap sebuah kaskade strategis yang utuh. Artikel ini akan mengupas tuntas lima temuan paling mengejutkan dari kedua dokumen tersebut, yang menunjukkan bagaimana NU secara sistematis merekayasa masa depannya.

1. Dari Strategi Global ke Jadwal Medsos Tingkat Desa

Kontras antara kedua dokumen ini adalah penemuan pertama yang paling mencolok. Renstra PCNU Cilacap berbicara dalam bahasa strategis tingkat tinggi, membahas tantangan globalisasi, revolusi industri 4.0, dan tanggung jawab kebangsaan. Bahkan, tertulis kekhawatiran gamblang bahwa tanpa inovasi, NU berisiko “berubah menjadi fosil yang membatu”.

Sementara itu, Buku Panduan NU Ranting Kedawung menerjemahkan visi besar itu menjadi aksi digital yang sangat konkret dan terjadwal di tingkat desa. Panduan ini berisi instruksi langsung, seperti jadwal konten media sosial rutin:

  • Senin: Kutipan Kyai NU (diunggah sebagai Story WA + IG)
  • Jumat: Dakwah Ringan (diunggah dalam format Carousel IG)

Penerjemahan mulus dari pandangan strategis setinggi 30.000 kaki ke eksekusi harian di level akar rumput ini adalah sebuah pencapaian yang jarang berhasil dilakukan organisasi besar mana pun. Hal ini mencegah visi tingkat tinggi menjadi sekadar “dokumen pajangan” dan memastikan setiap tindakan taktis memiliki tujuan yang jelas.

2. Digitalisasi Bukan untuk Menghilangkan, Tapi Memperkuat Tradisi

Kekhawatiran umum adalah bahwa digitalisasi akan menggerus tradisi. Namun, NU melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Bagi mereka, teknologi bukanlah ancaman, melainkan alat amplifikasi untuk menyebarkan nilai-nilai tradisional secara lebih luas dan efektif. Hal ini ditegaskan secara eksplisit dalam BAB 1 Panduan NU Kedawung:

Digitalisasi bukan menghilangkan tradisi, tapi memperkuatnya.

Prinsip ini bukan sekadar slogan. Panduan tersebut mewajibkan pengurus di tingkat desa untuk menguasai berbagai tools digital modern. Canva digunakan untuk membuat poster pengajian rutin, CapCut untuk mengedit video dakwah pendek, dan WhatsApp Channel untuk menyebarkan informasi kegiatan kepada jamaah secara cepat dan masif. Dengan kata lain, teknologi kekinian justru menjadi sarana baru untuk melestarikan dan menyebarluaskan kegiatan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

3. Anak Muda dan Santri adalah Mesin Penggerak Inovasi

Siapa yang berada di balik layar transformasi digital ini? Dokumen-dokumen ini menunjukkan bahwa NU secara sadar menempatkan generasi muda sebagai motor penggeraknya. Badan otonom (Banom) berbasis usia menjadi tulang punggung eksekusi di lapangan, dengan pembagian peran yang sangat jelas:

  • IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) & IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama): Bertanggung jawab sebagai tim kreatif dan admin media sosial.
  • Ansor (Gerakan Pemuda Ansor): Bertugas mengurus logistik dan keamanan digitalisasi untuk kegiatan-kegiatan besar.
  • Fatayat & Muslimat: Berperan dalam urusan dokumentasi sosial.

Struktur yang dibentuk pun sangat modern. Di Ranting Kedawung, terdapat “Tim Santri Digital” dengan posisi spesifik seperti “Koordinator Konten” dan “Desainer & Admin Sosial Media”. Struktur ini tidak ubahnya seperti tim digital di sebuah perusahaan rintisan (startup), menunjukkan agilitas dan adaptabilitas organisasi. Dengan memberdayakan anak muda sebagai ujung tombak teknologi, NU tidak hanya memastikan relevansinya hari ini, tetapi juga melakukan regenerasi kepemimpinan untuk masa depan.

4. Fokus Meluas: Dari Urusan Agama ke Kemandirian Ekonomi dan Sosial

Salah satu kritik diri paling jujur ditemukan dalam Renstra PCNU Cilacap. Dokumen tersebut mengakui bahwa banyak warga NU “cenderung membangun pola pikir dan mengembangkan wawasan yang fokus pada masalah keagamaan” dan “kurang menaruh perhatian pada masalah-masalah sosial ekonomi.”

Kritik internal ini bukan sekadar pengakuan, melainkan justifikasi untuk sebuah poros strategis (strategic pivot). PCNU Cilacap secara sadar berevolusi dari organisasi sosial-keagamaan murni menjadi entitas hibrida yang berfokus pada pemberdayaan komunitas holistik. Targetnya sangat ambisius, mencakup pendirian Badan Usaha Milik NU (BUMNU), pengembangan layanan pendidikan dan kesehatan, pengelolaan hutan sosial, hingga penyediaan pendampingan hukum bagi warga.

Visi besar ini terhubung dengan praktik di tingkat bawah. Panduan NU Kedawung, misalnya, mewajibkan publikasi bulanan “Laporan infak (GOCAP, wakaf, dll) berbentuk infografis.” Ini adalah langkah kecil namun signifikan menuju transparansi dan akuntabilitas—bukti nyata bahwa pergerakan menuju pengelolaan sumber daya umat yang modern sedang terjadi di semua lini.

5. Bukan Sekadar Iman, Tapi Angka: Ambisi NU Diukur dalam Miliaran dan Persentase

Mungkin temuan yang paling mengejutkan adalah bagaimana NU mengukur ambisinya. Jauh dari citra organisasi yang bergerak secara informal, Renstra PCNU Cilacap dipenuhi dengan tabel-tabel Indikator Kinerja Utama atau Key Performance Indicators (KPI) yang sangat spesifik dan terukur, layaknya sebuah rencana bisnis korporat.

Berikut adalah beberapa contoh target yang menunjukkan keseriusan NU dalam perencanaan berbasis data:

  • Target Pendapatan LAZISNU: Target pendapatan/pentasarufan dana dari Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah NU (LAZISNU) ditetapkan sebesar Rp 14,4 Miliar pada tahun 2024 dan ditargetkan untuk terus meningkat setiap tahunnya.
  • Pendirian Badan Usaha: Target jumlah Badan Usaha Milik NU (BUMNU) yang berdiri dan menghasilkan profit ditargetkan tumbuh dari 0 menjadi 6 unit pada tahun 2029.
  • Sertifikasi Aset: Target persentase aset tanah dan bangunan milik NU yang tersertifikasi secara hukum ditargetkan naik dari 40% menjadi 85% pada tahun 2029.
  • Digitalisasi Layanan: Target penggunaan Sistem Informasi Strategis NU (SISNU) di tingkat ranting (desa) ditargetkan mencapai 95% pada tahun 2029.

Penggunaan KPI ini mengubah ambisi NU dari tujuan abstrak menjadi sebuah rencana korporat yang konkret dan terukur. Pendekatan berbasis data ini menandakan pergeseran budaya yang mendalam menuju akuntabilitas dan manajemen kinerja—instrumen yang lebih sering diasosiasikan dengan ruang rapat direksi ketimbang organisasi keagamaan.

Penutup

Dari Canva di tingkat desa hingga target KPI miliaran rupiah di tingkat kabupaten, Nahdlatul Ulama adalah sebuah entitas raksasa yang mampu menyeimbangkan tradisi luhur dengan strategi modern. Jauh dari citra sebuah relik masa lalu, Nahdlatul Ulama justru sedang menunjukkan sebuah masterclass dalam evolusi organisasi: menghormati akarnya sambil secara sistematis merekayasa masa depannya.

Ini membawa kita pada sebuah refleksi. Jika sebuah organisasi dengan akar tradisi yang begitu kuat mampu bertransformasi secara sistematis, pelajaran apa yang bisa kita ambil untuk organisasi atau bahkan komunitas kita sendiri di tengah derasnya arus perubahan zaman?

Jadwal Sholat

Memuat…
Menuju –j –m –d
  • Imsak –:–
  • Subuh –:–
  • Terbit –:–
  • Dzuhur –:–
  • Ashar –:–
  • Maghrib –:–
  • Isya –:–
Kedawung, Kroya & Sekitarnya
(Koordinat Presisi Desa Kedawung)