Antara Magis dan Kritis: Membedah Mentalitas Kita di Era Digital ala Dr. Fahruddin Faiz
KEDAWUNG – Di era gempuran informasi dan teknologi digital yang serba instan, tantangan terbesar warga Nahdliyin saat ini bukan lagi sekadar mencari informasi, melainkan bagaimana menyikapi informasi tersebut dengan nalar yang sehat.
Dalam sebuah ulasan di kanal NU Online, pakar filsafat Dr. Fahruddin Faiz membedah fenomena mentalitas masyarakat modern yang sering terjebak dalam pola pikir “Magis” dan “Naif”. Berikut adalah poin-poin penting yang bisa kita jadikan bahan refleksi bersama untuk meningkatkan kualitas diri dan organisasi di Ranting NU Kedawung.
1. Mengenali Empat Level Kesadaran Manusia
Menurut Dr. Fahruddin Faiz (mengutip Paulo Freire), ada empat jenis kesadaran yang menentukan bagaimana seseorang bersikap terhadap masalah:
- Kesadaran Magis: Ini adalah level terendah, di mana seseorang hanya ikut-ikutan apa yang viral atau tren tanpa dipikir ulang. Jika orang lain ke utara, ia ikut ke utara. Mentalitas ini membuat kita pasif dan mudah terombang-ambing.
- Kesadaran Naif: Di level ini, seseorang sebenarnya tahu ada masalah, tapi memilih abai. “Ah, itu bukan urusanku, yang penting aku senang,” begitu prinsipnya. Ini adalah sikap egois yang menghambat kemajuan jamaah.
- Kesadaran Fanatik: Seseorang merasa punya solusi, tapi solusinya hanya terbatas pada kelompok atau alirannya sendiri. Ia merasa kelompoknya paling benar dan menutup diri dari kebenaran lain.
- Kesadaran Kritis: Inilah yang harus kita tuju. Orang yang kritis adalah mereka yang sadar akan masalah, mampu mencari solusi secara jernih, dan yang paling penting: siap untuk berubah (transformasi).
2. Lebih dari Sekadar “Bungah”: Menuju Hidup yang “Rahayu”
Beliau juga mengangkat kearifan lokal Jawa melalui pemikiran Ki Ageng Suryomentaram tentang tiga tingkatan kebahagiaan:
- Bungah (Senang): Kebahagiaan yang sifatnya sesaat dan fisik, seperti makan enak atau punya barang baru.
- Bejo (Bahagia): Level di mana batin mulai tenang dan mampu mengelola diri sendiri.
- Rahayu: Inilah puncak kebahagiaan. Rahayu adalah kondisi di mana fisik kita sehat, akal kita tajam (cerdas), hati kita bersih, dan spiritualitas kita hidup. Inilah doa yang sering kita ucapkan, namun jarang kita maknai secara mendalam.
3. Islam Tidak Hanya “Qauliyah”
Seringkali kita hanya fokus pada ayat-ayat Qauliyah (teks Al-Qur’an). Namun, Dr. Fahruddin Faiz mengingatkan bahwa untuk menjadi manusia yang utuh, kita juga harus membaca ayat Allah yang lain:
- Ayat Kauniyah: Mempelajari alam semesta dan sains (fisika, biologi, matematika). Belajar ilmu pengetahuan umum adalah bagian dari ibadah karena kita sedang mempelajari ciptaan-Nya.
- Ayat Nafsiyah: Mengenal diri sendiri melalui ilmu psikologi dan sosiologi.
- Ayat Tarikhiah: Belajar dari sejarah agar kita tidak jatuh ke lubang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Menyeimbangkan Sunatullah dan Rahmatullah
Pesan penutup yang sangat berkesan dari beliau adalah tentang keseimbangan antara usaha dan doa. Kita tidak bisa terus-menerus mengharapkan Rahmatullah (rahmat Allah) tanpa melewati jalan Sunatullah (hukum alam/ikhtiar).
“Jangan cuma main slot tapi berharap Allah kasih kepandaian atau kekayaan. Kalau ingin pintar, sunatullah-nya adalah belajar dan membaca,” tegas Dr. Fahruddin Faiz.
Bagi kita, pengurus maupun jamaah NU di Ranting Kedawung, pesan ini menjadi pengingat bahwa memajukan organisasi dan umat memerlukan nalar kritis, ilmu pengetahuan yang luas, dan kemauan untuk terus bertransformasi menuju hidup yang Rahayu.
Disarikan dari Ngaji Filsafat Dr. Fahruddin Faiz di kanal YouTube NU Online.






Tinggalkan Balasan