Mengapa Barat Maju Tanpa Baca Al-Qur’an? Refleksi untuk Masa Depan NU Ranting Kedawung
KEDAWUNG, nukedawung.web.id – Pertanyaan tentang mengapa peradaban Barat tampak lebih maju dalam sains dan teknologi meskipun mereka tidak membaca Al-Qur’an sering kali muncul di berbagai forum pengajian. Pertanyaan ini menjadi penting untuk direnungkan bersama, khususnya bagi warga Nahdliyin di Kedawung yang ingin memahami bagaimana Islam seharusnya menjadi pendorong kemajuan, bukan sekadar identitas ritual.
Dalam sebuah ceramah yang viral baru-baru ini, Gus Dhofir Zuhry, pengasuh Pondok Pesantren Baitul Hikmah, memberikan penjelasan yang mencerahkan sekaligus menantang cara berpikir kita selama ini. Berikut adalah poin-poin refleksi yang relevan untuk kita terapkan di lingkungan Ranting NU Kedawung.
1. Dua Jenis Ayat: Antara yang Tertulis dan yang Terhampar
Gus Dhofir menjelaskan bahwa Allah SWT menurunkan dua jenis “ayat” kepada manusia yang keduanya wajib dibaca melalui perintah Iqra’:
- Ayat Qauliyah: Wahyu tertulis yang terhimpun dalam Al-Qur’an.
- Ayat Kauniyah: Tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam semesta, hukum alam, dan realitas sosial.
“Orang Barat memang tidak membaca Ayat Qauliyah, tapi mereka sangat giat membaca Ayat Kauniyah. Mereka meneliti alam, mempelajari hukum fisika, kimia, biologi, dan akhirnya menguasai teknologi,” jelas beliau.
Bagi kita di Ranting Kedawung, ini adalah pengingat bahwa ber-NU tidak hanya soal hadir di pengajian khataman Al-Qur’an (Qauliyah), tapi juga soal bagaimana kita “membaca” potensi desa. Bagaimana petani kita menguasai teknologi pertanian modern, atau bagaimana pemuda kita melek teknologi informasi, itu adalah bentuk nyata dari membaca Ayat Kauniyah.
2. Membedah Ulang Makna Ibadah: Kerja Produktif
Satu poin paling tajam yang disampaikan Gus Dhofir adalah kritik terhadap pemahaman sempit tentang ibadah. Beliau menyoroti terjemahan kata “liya’budun” dalam QS. Adz-Dzariyat: 56 yang umumnya hanya diartikan “untuk menyembah-Ku” secara ritual.
Berdasarkan penelusuran berbagai kamus besar bahasa Arab, Gus Dhofir menegaskan bahwa makna ibadah jauh lebih luas, yakni:
- Berdedikasi untuk kemanusiaan.
- Berkhidmah (melayani) sesama.
- Melakukan kerja-kerja produktif untuk kemajuan peradaban.
“Jika umat Islam memahami ibadah sebagai dedikasi untuk ilmu pengetahuan dan ekonomi, bukan hanya shalat dan dzikir, maka kemajuan umat akan jauh lebih melesat,” tegasnya. Semangat ini sangat sejalan dengan napas NU yang sejak awal didirikan tidak hanya untuk urusan ukhrawi, tetapi juga penguatan ekonomi (Nahdlatut Tujjar) dan pendidikan.
3. Melampaui Agama Seremonial
Gus Dhofir memberikan kritik membangun bahwa agama jangan sampai hanya berhenti pada aspek seremonial—acara besar, peringatan haul yang macet di mana-mana, atau maulidan, tanpa diiringi peningkatan kualitas berpikir.
Di tingkat ranting, tantangan kita adalah memastikan setiap rutinitas mingguan seperti Yasinan atau Tahlilan memiliki nilai tambah. Jangan sampai rutinitas tersebut hanya menjadi ajang kumpul tanpa ada transfer ilmu atau diskusi solusi atas masalah warga Kedawung. Kita butuh keberislaman yang mencerdaskan dan solutif.
4. Pesantren dan Rasionalitas (Ma’qulat)
Sebagai praktisi pendidikan, Gus Dhofir menekankan pentingnya mengajarkan ilmu-ilmu rasional (ma’qulat) di lembaga pendidikan Islam. Agama tidak boleh hanya dipandang sebagai hafalan teks, tetapi harus menjadi penggerak akal untuk berpikir maju. Inilah mengapa generasi muda NU Kedawung harus didorong untuk menguasai sains dan penalaran logis selain ilmu agama (manqulat).

Agenda Aksi untuk Warga NU Kedawung
Berdasarkan refleksi pemikiran di atas, mari kita wujudkan NU Ranting Kedawung yang lebih berdaya melalui langkah nyata:
- Jangan Berhenti di Ritual: Mari isi pengajian rutin dengan diskusi produktif tentang pendidikan anak, kesehatan lingkungan, dan ekonomi keluarga.
- Dorong Generasi Muda Belajar Sains: Dukung putra-putri kita untuk tidak hanya menjadi ahli agama, tapi juga ahli teknologi dan keterampilan praktis.
- Jadikan NU Motor Kemajuan: NU Kedawung harus menjadi pelopor gerakan literasi dan pemberdayaan ekonomi (seperti penguatan program GOCAP untuk kemandirian umat).
- Baca Potensi Sekitar: Tantangan sosial di desa kita adalah “Ayat Kauniyah” yang harus kita cari solusinya secara berjamaah.
Penutup Pesan utama Gus Dhofir Zuhry adalah ajakan untuk menyeimbangkan ritual dan intelektualitas. Membaca Al-Qur’an adalah kewajiban, namun membaca alam dan bekerja keras untuk kemajuan adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah SWT. Semoga NU Kedawung bisa menjadi contoh ranting yang tidak hanya kuat secara tradisi, tapi juga unggul dalam inovasi.
Wallahu a’lam bishawab.
Penulis: Admin NU Kedawung Referensi: Ceramah Gus Dhofir Zuhry (NU Online)






Tinggalkan Balasan