Gus Mus: Menghafal Al-Qur’an Hanyalah Awal, Tantangan Terbesar Adalah Mengamalkannya

Gus Mus: Menghafal Al-Qur’an Hanyalah Awal, Tantangan Terbesar Adalah Mengamalkannya

Gus Mus: Menghafal Al-Qur’an Hanyalah Awal, Tantangan Terbesar Adalah Mengamalkannya

Gus Mus: Menghafal Al-Qur’an Hanyalah Awal, Tantangan Terbesar Adalah Mengamalkannya

KEDAWUNG – Dalam sebuah ceramah yang penuh makna, KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, memberikan pesan mendalam bagi para penghafal Al-Qur’an dan umat Islam secara luas. Beliau menekankan bahwa menghafal ayat-ayat suci barulah sebuah permulaan dari perjalanan panjang seorang mukmin dalam berinteraksi dengan kalam Allah.

Tiga Tahapan Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Gus Mus menjabarkan bahwa ada tiga komponen utama yang harus dimiliki umat Islam sebagai bekal dalam memedomani Al-Qur’an:

  1. Membaca dan Menghafal: Tahapan awal yang menjadi dasar bagi seorang penghafal (Hamilul Qur’an).
  2. Memahami: Setelah hafal, tugas berikutnya adalah mendalami makna dan kandungan di balik setiap ayat.
  3. Mengamalkan: Inilah tahapan yang paling krusial. Al-Qur’an harus menjadi panduan perilaku dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau mengingatkan bahwa seringkali umat Islam berhenti pada tahap membaca saja tanpa berlanjut ke tahap pemahaman dan pengamalan yang nyata.

Tanggung Jawab Umat Islam terhadap Bangsa

Sebagai agama mayoritas di Indonesia, Gus Mus menegaskan bahwa umat Islam memegang tanggung jawab terbesar atas kondisi bangsa.

  • Jika Indonesia sukses dan makmur, umat Islamlah yang pertama kali harus bersyukur.
  • Sebaliknya, jika bangsa ini mengalami keterpurukan atau masalah moral (seperti korupsi yang dilakukan oleh oknum yang menonjolkan identitas Islam), maka itu menjadi tanggung jawab besar bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali sejauh mana Al-Qur’an benar-benar diamalkan.

Pentingnya Barokah dan Doa Orang Tua

Gus Mus juga berbagi sisi spiritual mengenai kesuksesan hidup. Beliau meyakini bahwa di luar usaha lahiriah dan pendidikan formal, terdapat unsur Barokah yang sangat nyata. Beliau mencontohkan perjalanan hidupnya sendiri yang sangat dipengaruhi oleh barokah dari para guru (Kiai) serta doa yang tidak terputus dari ibundanya. Pesan ini menjadi pengingat bagi para santri dan wali santri untuk selalu mengharap ridha Allah dan orang tua dalam setiap langkah menuntut ilmu.

Menjadi Sebaik-baik Manusia (Khairunnas)

Di akhir ceramahnya, Gus Mus berpesan agar bekal hafalan Al-Qur’an tidak membuat seseorang merasa cukup atau sombong. Tujuan akhir dari menghafal dan memahami Al-Qur’an adalah agar seseorang bisa menjadi Khairunnas anfauhum linnas—sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Warga Nahdliyin, khususnya di wilayah Kedawung, diharapkan dapat mengambil hikmah ini untuk terus berkhidmah kepada masyarakat dengan berlandaskan nilai-nilai luhur Al-Qur’an.


Dikutip dari: Ceramah Gus Mus pada kanal YouTube NU Online.

Jadwal Sholat

Memuat…
Menuju –j –m –d
  • Imsak –:–
  • Subuh –:–
  • Terbit –:–
  • Dzuhur –:–
  • Ashar –:–
  • Maghrib –:–
  • Isya –:–
Kedawung, Kroya & Sekitarnya
(Koordinat Presisi Desa Kedawung)