5 Gagasan Mengejutkan Gus Dur yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda tentang Islam

5 Gagasan Mengejutkan Gus Dur yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda tentang Islam

5 Gagasan Mengejutkan Gus Dur yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda tentang Islam

5 Gagasan Mengejutkan Gus Dur yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda tentang Islam

Pendahuluan: Membaca Ulang Pemikiran Sang Guru Bangsa

Diskusi mengenai Islam seringkali terasa kaku, politis, dan penuh ketegangan. Di tengah hiruk pikuk itu, suara Abdurrahman Wahid (Gus Dur) hadir sebagai penyejuk yang menawarkan perspektif Islam yang humanis, pluralis, dan berakar kuat pada kearifan lokal. Sebagai seorang pemikir dan guru bangsa, gagasannya kerap kali melampaui zamannya, menantang pemahaman yang mapan, dan membuka cakrawala baru. Artikel ini akan mengupas lima gagasan paling berdampak dan seringkali kontra-intuitif dari kumpulan esainya dalam buku “Islamku Islam Anda Islam Kita”, yang sangat relevan untuk kita renungkan hari ini.

——————————————————————————–

1. Tuhan Tidak Perlu Dibela, Manusialah yang Perlu Pembelaan

Salah satu gagasan Gus Dur yang paling fundamental dan provokatif adalah pergeseran fokus pembelaan: bukan kepada Tuhan, melainkan kepada manusia. Bagi Gus Dur, Tuhan adalah Zat Yang Maha Kuasa dan sama sekali tidak memerlukan pembelaan dari makhluk-Nya. Sebaliknya, tugas utama seorang Muslim adalah membela martabat manusia yang seringkali menjadi korban penindasan, terlepas dari apa pun agama, etnis, atau status sosialnya.

Fokus pembelaan ini terlihat jelas dari sepak terjangnya. Dalam esai-esainya, Gus Dur tercatat membela Inul Daratista dari cercaan atas nama agama, melindungi Ulil Abshar Abdalla yang diancam hukuman mati oleh sesama ulama, hingga berdiri di sisi rakyat kecil dan kelompok minoritas yang tertindas. Pembelaannya melintasi batas negara, dari rakyat Palestina dan Irak hingga mereka yang menjadi korban dominasi kapitalisme global. Baginya, membela kemanusiaan adalah esensi dari keberagamaan itu sendiri.

Gagasan ini dirangkum dengan kuat dalam pengantar redaksi buku “Islamku Islam Anda Islam Kita”:

Bahwa “Tuhan tidak perlu dibela”, itu sudah dinyatakan oleh Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam suatu tulisannya yang kemudian menjadi judul salah satu buku kumpulan karangannya… “Pembelaan” itulah kata kunci dalam kumpulan esai-esai tulisan Abdurrahman Wahid kali ini. Bisa dikatakan, esai-esai ini berangkat dari perspektif korban, dalam hampir semua kasus yang dibahas. Wahid tidak pandang bulu, tidak membedakan agama, keyakinan, etnis, warna kulit, posisi sosial apapun untuk melakukannya.

——————————————————————————–

2. Islam Bukan Ideologi Negara, Melainkan Jalan Hidup Masyarakat

Gus Dur dengan tegas menolak formalisasi dan ideologisasi Islam dalam kehidupan bernegara. Ia membedakan dua paradigma: paradigma legal-eksklusif yang ingin menjadikan Islam sebagai sistem hukum dan politik formal negara, dan paradigma substantif-inklusif yang ia anut. Bagi Gus Dur, Islam bukanlah ideologi negara, melainkan jalan hidup yang mewarnai masyarakat.

Menurutnya, misi utama Nabi Muhammad bukanlah membangun sebuah negara atau sistem pemerintahan tertentu. Misi kenabian adalah menyebarkan nilai-nilai kebajikan dan mempersatukan umat manusia dalam keimanan. Sejarah Indonesia sendiri menjadi bukti nyata dari pandangan ini. Pada 18 Agustus 1945, para pemimpin gerakan Islam menunjukkan pengorbanan monumental. Tokoh-tokoh seperti Ki Bagus Hadikusumo dan KHA Kahar Mudzakir dari Muhammadiyah, Abi Kusno Cokrosuyoso dari Sarekat Islam, serta H. Agus Salim dan A. Wahid Hasjim dari Nahdlatul Ulama (NU), dengan lapang dada setuju untuk menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta dari UUD demi menjaga keutuhan bangsa yang sangat heterogen. Ini menunjukkan bahwa keutuhan bangsa dinilai lebih tinggi daripada formalisasi ajaran agama dalam struktur negara.

Pandangan komprehensif Gus Dur mengenai hal ini dirangkum dengan baik oleh cendekiawan John L. Esposito:

“Wahid believes that contemporary Muslims are at critical crossroad… a state in which religion and politics are separate… Wahid has spent his life promoting the development of a multifaceted Muslim identity and a dynamic Islamic tradition capable of responding to the realities of modern life. Its cornerstones are free will and the right of all Muslims… to “perpetual reinterpretation” (ijtihad) of the Quran and tradition of the Prophet in light of “ever changing human stations.””

——————————————————————————–

3. Arabisasi Tidak Sama dengan Islamisasi

Gus Dur melontarkan kritik tajam terhadap kecenderungan untuk menyamakan budaya Arab dengan ajaran Islam. Ia melihat adanya formalisasi yang tidak perlu, di mana penggunaan simbol, nama, atau gaya hidup yang berbau Arab dianggap sebagai cerminan tingkat keislaman yang lebih tinggi atau lebih otentik. Gagasan ini bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari tradisi intelektual Islam yang panjang. Imam Al-Ghazali, salah seorang ulama terbesar, adalah yang pertama kali berani membuat garis demarkasi yang jelas antara mana yang bersifat “Arabis” dan mana yang “Islamis”.

Gus Dur melihat fenomena ini terjadi secara konkret di Indonesia, seperti penggunaan nama-nama berbahasa Arab untuk fakultas-fakultas di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), atau pondok pesantren yang mengganti nama lokalnya dengan nama Arab seolah-olah untuk membuatnya terdengar “lebih Islami”. Padahal, nama-nama lokal seperti Pesantren Tebu Ireng atau Lirboyo tidak mengurangi sedikit pun substansi keislamannya.

Menurut Gus Dur, pembedaan antara Arabisasi dan Islamisasi ini sangatlah penting. Menyamakan keduanya dapat menimbulkan rasa rendah diri kultural dan menghambat tumbuhnya kepercayaan diri pada ekspresi Islam yang otentik sesuai dengan konteks lokal. Dengan membedakannya, Islam di Nusantara dapat berkembang sesuai dengan akar budayanya sendiri, tanpa harus merasa inferior terhadap budaya dari belahan dunia lain.

——————————————————————————–

4. Hukum Agama Itu Dinamis, Bukan Kaku dan Beku

Bagi Gus Dur, Islam harus mampu menjawab tantangan zaman melalui ijtihad atau penafsiran ulang yang terus-menerus. Fikih (hukum Islam) bukanlah seperangkat aturan yang beku dari masa lalu, melainkan sebuah kerangka yang hidup dan dialogis dengan realitas sosial yang terus berubah. Pandangan ini menunjukkan bahwa hukum agama bersifat dinamis, bukan kaku.

Salah satu contoh paling mengejutkan datang dari reinterpretasi yang dilakukan oleh ulama besar Syekh Arsyad al-Banjari pada abad ke-18. Ia melakukan “pembaharuan terbatas” pada hukum waris Islam dengan mengakomodasi adat Perpantangan di Banjar. Adat ini mengakui bahwa rezeki adalah hasil kerja sama antara suami dan istri. Dalam narasi adat tersebut, “ketika sang suami masuk hutan mencari damar, rotan, kayu dan sebagainya, maka istri menjaga jangan sampai perahu yang ditumpangi itu tidak terbawa arus air”. Karena usaha ini dipandang sebagai jerih payah bersama, maka sebelum harta warisan dibagi menurut hukum waris Islam (faraidh), harta tersebut dibagi dua terlebih dahulu: separuh untuk pasangan yang masih hidup, dan separuh sisanya baru dibagikan kepada para ahli waris.

Contoh lain adalah reinterpretasi Gus Dur terhadap hadis mengenai kepemimpinan perempuan. Ia berargumen bahwa larangan tersebut berlaku dalam konteks kepemimpinan individual di zaman Nabi. Di era modern, kepemimpinan negara bersifat institusional (melibatkan kabinet, parlemen, dan mahkamah agung), sehingga hadis tersebut tidak lagi relevan untuk melarang perempuan menjadi pemimpin negara. Fleksibilitas inilah yang menunjukkan bahwa Islam adalah ajaran yang hidup, bukan dogma yang mati.

——————————————————————————–

5. Strategi Perjuangan Terbaik adalah Kultural, Bukan Politis

Sebagai strategi perjuangan Islam di Nusantara, Gus Dur lebih memilih pendekatan kultural yang damai dan efektif daripada pendekatan politis-ideologis yang frontal. Ia meneladani kearifan para Wali Songo, seperti Sunan Ampel, yang tidak mencoba mengubah sistem kekuasaan Majapahit secara paksa.

Contoh paling unik dari pendekatan ini adalah penggunaan tembang anak-anak Jawa “Lir-ilir”. Tembang ini digunakan secara cerdas oleh Sunan Ampel (atau, menurut versi lain, Sunan Kalijaga) untuk menanamkan doktrin Sunni tentang ketaatan pada penguasa. Melalui simbol-simbol budaya Jawa yang sangat halus—seperti anak gembala, buah belimbing, dan baju yang robek untuk seba (menghadap raja)—ia menyampaikan pesan keagamaan tanpa menimbulkan konflik. Pesan itu menyatu dengan budaya masyarakat sehingga diterima secara alamiah.

Pendekatan budaya ini sangat kontras dengan pendekatan ideologis yang cenderung ingin mengubah struktur kekuasaan secara frontal, seringkali mengabaikan pilihan rakyat, dan berpotensi menimbulkan kekerasan. Strategi kultural yang diusung Gus Dur dan para Wali menunjukkan kearifan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam secara jangka panjang, mengakar di masyarakat, dan tanpa pertumpahan darah.

——————————————————————————–

Kesimpulan: Warisan Pluralisme untuk Masa Depan

Kelima gagasan di atas melukiskan wajah Islam ala Gus Dur: sebuah agama yang memihak pada kemanusiaan, menghargai keragaman budaya lokal, dialogis dengan tantangan zaman, dan lebih mengutamakan kearifan daripada perebutan kekuasaan formal. Pemikirannya menawarkan jalan keluar dari pemahaman agama yang sempit dan kaku, menuju spiritualitas yang membebaskan dan merangkul. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi oleh identitas dan ideologi, bukankah pemikiran Gus Dur yang mendahulukan martabat manusia di atas formalisme justru menjadi semakin relevan sebagai kompas kita bersama?

Jadwal Sholat

Memuat…
Menuju –j –m –d
  • Imsak –:–
  • Subuh –:–
  • Terbit –:–
  • Dzuhur –:–
  • Ashar –:–
  • Maghrib –:–
  • Isya –:–
Kedawung, Kroya & Sekitarnya
(Koordinat Presisi Desa Kedawung)