5 Wawasan Mengejutkan dari Buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda

5 Wawasan Mengejutkan dari Buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda

5 Wawasan Mengejutkan dari Buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda

5 Wawasan Mengejutkan dari Buku ‘Ilusi Negara Islam’ yang Akan Mengubah Cara Pandang Anda

Beberapa tahun terakhir, banyak dari kita merasakan dan mungkin khawatir melihat wajah Islam di Indonesia yang seolah menjadi lebih garang. Aksi intoleran di jalanan, manuver politik di parlemen, dan klaim kebenaran sepihak yang semakin kentara membuat resah. Fenomena ini sering kali dianggap sebagai kebangkitan gairah beragama dari akar rumput. Namun, bagaimana jika semua itu bukanlah fenomena terpisah, melainkan bagian dari sebuah proyek terkoordinasi?

Sebuah buku fundamental membongkar anggapan tersebut dan menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks dan terencana. Buku itu adalah “Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia,” sebuah karya penting yang dieditori oleh mendiang KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bukan sekadar opini, buku ini adalah hasil penelitian mendalam selama lebih dari dua tahun yang menghubungkan titik-titik antara aksi intoleran, manuver politik, dan aliran dana geopolitik yang masif.

Temuan utamanya mengejutkan: gelombang Islam puritan yang kita saksikan bukanlah gerakan organik dari dalam, melainkan hasil infiltrasi sistematis dan terorganisir yang bertujuan melakukan semacam “genosida kultural”—mengganti tradisi spiritual Nusantara dengan ideologi impor. Berikut adalah lima wawasan paling mengejutkan dari buku krusial ini yang akan mengubah cara pandang Anda.

Infiltrasi Sistematis: Taktik “Kuda Troya” untuk Mengambil Alih Masjid

Salah satu temuan paling konkret dan mengejutkan dari penelitian ini adalah bagaimana kelompok garis keras mengambil alih masjid-masjid Nahdlatul Ulama (NU). Strategi pengambilalihan ini begitu cerdik justru karena kesederhanaannya. Bukan melalui konfrontasi, melainkan melalui kebaikan yang dimanipulasi—sebuah ‘kuda Troya’ berkedok pelayanan.

Prosesnya berjalan secara bertahap dan nyaris tak terlihat. Awalnya, sekelompok pemuda datang menawarkan jasa kebersihan gratis (cleaning service gratis) secara sukarela dan berulang kali. Karena kesungguhan mereka, pengurus masjid (takmir) yang tidak curiga kemudian memberi mereka kesempatan mengumandangkan adzan, lalu melibatkan mereka dalam kepengurusan. Setelah mendapat posisi, mereka mulai mengundang teman-teman dari kelompoknya, hingga akhirnya mendominasi dan memegang kendali. Pada tahap akhir, merekalah yang menentukan siapa yang boleh berkhotbah dan materi apa yang boleh disampaikan.

Taktik ini begitu halus sehingga sulit dideteksi pada tahap awal. Buku ini bahkan mencatat, “Jika kasus ini digambarkan dalam sebuah film, penonton akan berpikir bahwa ini hasil imaginasi sutradara.” Masjid yang semula pusat ajaran damai, perlahan tapi pasti, jatuh ke tangan kelompok yang menjadikan PKS dan HTI sebagai ujung tombaknya.

Ideologi Impor dan Genosida Kultural: Musuh Sebenarnya Bukanlah “Barat”

Buku ini menegaskan bahwa gerakan garis keras di Indonesia bukanlah produk asli Nusantara. Akar ideologisnya berasal dari gerakan transnasional Timur Tengah, terutama Wahabisme dan Ikhwanul Muslimin. Ironisnya, saat mereka meneriakkan sentimen anti-Barat, mereka sendiri adalah agen infiltrasi ideologi asing yang bertujuan “melenyapkan budaya dan tradisi bangsa kita dan menggantinya dengan budaya dan tradisi asing yang bernuansa Wahabi.”

Skala operasi ini didanai secara fantastis. Untuk memahaminya, bayangkan anggaran propaganda Uni Soviet di puncak Perang Dingin. Dana untuk proyek Wahabisasi global ini membuatnya terlihat kerdil. Buku ini mengutip data bahwa antara 1979 hingga 2003, dana yang digelontorkan diperkirakan mencapai US $70 miliar. Dana inilah yang membiayai upaya genosida kultural terselubung di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dalam pengantarnya, Gus Dur dengan tajam melucuti narasi palsu yang sering mereka gunakan:

…sementara para agen garis keras berteriak bahwa orang asing datang ke Indonesia membawa uang yang banyak untuk menghancurkan Islam… tentu itu benar, karena orang asing itu adalah aktivis gerakan transnasional dari Timur Tengah yang menggunakan petrodollar dalam jumlah yang fantastis untuk melakukan Wahabisasi, merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun, dan mengubah Indonesia sesuai dengan ilusi mereka tentang negara Islam yang di Timur Tengah pun tidak ada.

Politik Berkedok Agama: Kebangkitan “Neo-Khawarij”

Salah satu strategi utama kelompok garis keras adalah mengubah Islam dari agama yang kaya spiritualitas menjadi ideologi politik yang kaku. Dalam proses ini, konsep-konsep mulia dalam Islam dibajak dan dipersenjatai. Istilah seperti dakwah (mengajak pada kebaikan) dan amar ma’ruf nahy munkar (menyeru pada kebaikan dan mencegah keburukan) ditafsirkan ulang untuk tujuan kekuasaan. Amar ma’ruf nahy munkar menjadi legitimasi untuk melakukan kekerasan, sementara konsep rahmatan lil-‘âlamîn (rahmat bagi seluruh alam) secara paradoksal digunakan sebagai dalih untuk memaksakan tafsir tunggal mereka.

Taktik ini sangat berbahaya karena memanipulasi bahasa agama yang digunakan bersama. Akibatnya, banyak Muslim menjadi ragu untuk menentang mereka, karena khawatir dituduh “alergi Islam atau anti ukhuwah.” Padahal, taktik mengafirkan sesama Muslim (takfir) ini bukanlah hal baru. Buku ini menghubungkannya dengan Khawarij, sekte ekstremis pertama dalam sejarah Islam yang gemar mengafirkan dan memerangi siapa pun yang berbeda pendapat. Kebangkitan “Neo-Khawarij” modern inilah yang sedang mengubah wajah Islam di Indonesia.

Seperti yang dijelaskan dalam buku ini:

Langkah ini sangat ampuh, karena siapa pun yang melawan mereka akan dituduh melawan Islam. Padahal jelas tidak demikian.

Paradoks Demokrasi: Menggunakan Sistem Demokratis untuk Menghancurkan Demokrasi

Banyak kelompok fundamentalis secara terbuka menyatakan anti-demokrasi dan menganggapnya sebagai sistem “kafir”. Namun, pada saat yang sama, mereka dengan pragmatis memanfaatkan semua instrumen demokrasi—pemilu, parlemen, dan kebebasan berserikat—untuk mencapai cita-cita politik anti-demokrasi mereka.

Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, dalam prolog buku ini, menyoroti paradoks dan ketidakjujuran strategi ini dengan sangat tajam:

Anehnya, semua kelompok fundamentalis ini anti demokrasi, tetapi mereka memakai lembaga negara yang demokratis untuk menyalurkan cita-cita politiknya. Fakta ini dengan sendirinya membeberkan satu hal: bagi mereka bentrokan antara teori dan praktik tidak menjadi persoalan. Dalam ungkapan lain, yang terbaca di sini adalah ketidakjujuran dalam berpolitik. Secara teori demokrasi diharamkan, dalam praktik digunakan, demi tercapainya tujuan.

Analisis ini mengungkap bahwa agenda utama mereka bukanlah tentang konsistensi prinsip, melainkan perebutan kekuasaan. Demokrasi bagi mereka hanyalah kendaraan sementara yang akan dibuang ketika tujuan akhir telah tercapai.

Jihad Sebenarnya: Perang Terbesar Adalah Melawan Kurawa di Dalam Diri

Sebagai penawar ideologi kekerasan, Gus Dur mengangkat kembali makna jihad yang paling hakiki dalam tradisi spiritual Islam. Ia menekankan bahwa musuh terbesar bukanlah kekuatan eksternal, melainkan “musuh dalam selimut”—hawa nafsu dan ego destruktif di dalam diri setiap manusia. Ini adalah pertarungan abadi antara Pandawa melawan Kurawa yang terjadi dalam diri kita.

Gus Dur mengutip hadits masyhur saat Nabi Muhammad saw. kembali dari Perang Badr. Nabi bersabda, “Raja‘nâ min jihâd al-ashghar ilâ jihâd al-akbar” (Kita telah kembali dari jihad yang lebih kecil menuju jihad yang lebih besar).

Pernyataan ini sontak mengejutkan para sahabat yang baru saja mempertaruhkan nyawa. Jihad apa lagi yang lebih besar dari itu? Buku ini mengisahkan jawaban Nabi yang mendalam:

Mendengar pernyataan tersebut, para sahabat sangat terkejut. Mereka bertanya-tanya, perang (qitâl) apa lagi yang lebih dahsyat. Rasulullah saw. menjelaskan, “Perang melawan hawa nafsu.” Para sahabat terdiam, sadar betapa berat dan sulit melawan musuh di dalam diri.

Wawasan ini menawarkan kontra-narasi yang kuat. Jihad sejati bukanlah perang fisik untuk menaklukkan orang lain, melainkan perjuangan spiritual seumur hidup untuk menaklukkan ego dan kebencian dalam diri. Inilah alternatif otentik dan damai yang ditawarkan tradisi spiritual Nusantara untuk melawan ideologi kekerasan.

Kesimpulan: Memilih Masa Depan Bangsa

Buku “Ilusi Negara Islam” adalah sebuah pembuka mata. Ia membuktikan bahwa fenomena menguatnya Islam garis keras bukanlah kebangkitan spiritual, melainkan sebuah proyek politik terkoordinasi yang didukung dana asing dan bertujuan menimpa budaya luhur bangsa dengan ideologi impor.

Namun, harapan terbesar justru datang dari dalam. Buku ini menunjukkan bahwa penawar paling ampuh bukanlah perlawanan politik, melainkan pendalaman kembali identitas spiritual Indonesia yang otentik. Warisan intelektual dan spiritual bangsa—yang diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid—adalah benteng terbaik kita. Pada akhirnya, buku ini meninggalkan kita dengan sebuah tanggung jawab besar, seperti yang ditulis Gus Dur dalam kalimat penutupnya yang menggugah:

Saat ini kitalah yang memilih masa depan bangsa.

Jadwal Sholat

Memuat…
Menuju –j –m –d
  • Imsak –:–
  • Subuh –:–
  • Terbit –:–
  • Dzuhur –:–
  • Ashar –:–
  • Maghrib –:–
  • Isya –:–
Kedawung, Kroya & Sekitarnya
(Koordinat Presisi Desa Kedawung)